NYEPI VERSI ALKITAB

NYEPI Versi Alkitab ? Emang Ada ? Ah Bang Roi BerJanda tawa nih Eh salah Maksudnya Bercanda Tawa, hahahah, Oke Loe sudah semua Pada Ketawa Yuk Mari kita Berselancar, sebagai mantan siswa pada sekolah torah di Eits Chaim Level 4 maka saya akan gunakan metode pardesh yang lebih dikenal dengan hermenetika Ibrani, pada Tulisan pendek ini, Tanpa berlama-lama Yuk Kita Mulai

Secara Pshat (Secara Harfiah) kita akan melihat perBedaannya "Sepi" sama "Hening". Gampangnya, ada dua jenis diam dalam bahasa Ibrani:

SHEKET Ini diam yang sifatnya dari luar. Misalnya, nggak ada perang, HP mati, atau tetangga nggak lagi renovasi rumah. Intinya, lingkungan sekitar lagi tenang.
DUMIYA Nah, ini lebih dalam. Ini diam yang "dalem banget" sampai rasanya kayak lumpuh, tapi penuh penantian.

Mari Kita berkunjung ke Catatan Om Daud Sang Raja Yang Jago Main Kecapi itu, Mazmur 62:2 Di teks aslinya, "Hanya kepada Allah jiwaku diam." Diam di sini maksudnya Dom, alias pasrah total. Jadi, bukan cuma nggak ngomong, tapi kamu lagi mindahin "mik" dari tangan lo ke tangan Tuhan. Lo stop ngoceh biar Dia yang bicara. Pahamkan sayang ?

Remez (Kode/Isyarat)
Rabi Abraham Joshua Heschel bilang kalau keheningan itu sebenernya "bahasa level dewa".
Sheket itu cuma syarat supaya lo bisa denger.
Dumiya itu kondisi pas lo nggak perlu denger apa-apa lagi karena lo udah "nyampe" dan ngerasain sendiri hadirnya Tuhan.

Pas Taurat dikasih di Gunung Sinai, katanya alam semesta itu Dumiya. Burung nggak bunyi, angin nggak niup. Dunia dibikin "hening total" supaya cuma suara Tuhan yang ngisi ruang kosong itu.

Drash (Cerita/Prakteknya)
Ingat cerita Elia? Dia nggak nemu Tuhan di angin kencang atau gempa, tapi di suara keheningan yang tipis banget (Kol Demamah Dekah).

Sheket itu pas lo airplane mode HP lo buat doa.
Dumiya itu pas otak lo berhenti debat atau komplain sama Tuhan pas lagi doa.
Seringkali spiritualitas kita sekarang terlalu berisik, harus ada musik kencang atau konser. Padahal Alkitab ngajakin kita ke Dumiya—diam yang justru punya power gede.

4. Sod (Rahasia ) Dumiya itu kayak huruf Aleph (?). Kalau lo ucapin, nggak ada bunyinya, cuma suara nafas.
Dumiya itu kayak wadah kosong. Kalau jiwa lo penuh sama suara ego lo sendiri (Yesh), ya cahaya Tuhan nggak bisa masuk.
Lo harus "narik diri" dikit (Tzimtzum) biar ada ruang kosong di hati lo buat Tuhan bermanifestasi.

Sebelum lanjut : Teman-teman perlu baca catatan Saya dalam bentuk PODCAST Soal PRIMASI AUDITORI Kaitan banget sama catatan diatas, Disini linknya https://www.facebook.com/share/v/1AphUgvNwM/

Atau Bisa Kik Catatan saya di Kompasiana Soal Dumiya : https://www.kompasiana.com/thepowerstatement.blogspot.com/551b5ff1813311ae489de589/power-statement-menantikan-tuhan-dumiyah-chakah-qavah

Kik Ya jangan. dilewatin Coi Wkwkwkwwk

HITBODEDUT ? Apalagi nih ?
Rabi Nachman punya cara asik buat praktekkin ini. Tujuannya: ubah Sheket (sepi luar) jadi Dumiya (hening dalam).

Cari Spot yang Chill (Sheket): Cari tempat sepi banget. Hutan, sawah, atau kamar pas tengah malam. Intinya biar sensor otak lo nggak keganggu input luar. Kosongin dulu gelasnya.
Sichah (Curhat Brutal): Ngobrol sama Tuhan kayak ke sohib sendiri. Pakai bahasa lo sehari-hari, jangan pakai bahasa formal kalau malah bikin lo kaku. Tumpahin semua uneg-uneg, dosa, sampai hal nggak penting. Ini cara buat ngebersihin "polusi" di otak.
Transisi ke Dumiya: Pas kata-kata lo udah habis, lo bakal nyampe di titik "ya udah". Kalau pikiran lo mulai lari-lari lagi, pegangan sama satu kata suci, misalnya "Tuhan" atau "Abba", ucapin pelan-pelan buat jadi jangkar.
Bitul Ha-Yesh (Ego Loss): Di tahap ini, lo nggak ngerasa lagi "Gue lagi doa," tapi lo ngerasa jadi bagian kecil dari Tuhan. Kayak tetesan air yang nyemplung ke laut; nggak ilang, tapi nyatu sama luasnya samudra.
Challenge Buat Nanti Malam:
Coba deh 20 menit sebelum tidur:
5 Menit Curhat sepuasnya, ngomong aja (vokal tapi pelan). Jangan ada yang ditutup-tupi.
10 Menit Merem, fokus ke nafas. Bayangin nafas lo itu huruf Aleph yang sunyi.
5 Menit Diem total. Jangan minta apa-apa, jangan mikir apa-apa. Biarkan Dumiya meluk kamu sayang ?

POINT OF VIEWNYA :
Diam itu bukan berarti kosong melompong. Justru itu cara kita kasih space buat Tuhan. Karena Tuhan itu seringnya nggak ketemu di tempat berisik, tapi di ruang kosong yang kita sediain buat Dia. Pahamkan Sayang ? Baruch Habba Beshema Adonai, Selamat Berdumiya "Nyepi" Sama Adonai Yeshua

By : El Roi Israel Sipahelut | Yom Hamishi, 27 Adar 5786 - Batu Penjuru