Kedudukan Paus dalam Sistem Roma
Salah satu pilar utama dari sistem Katolik Roma adalah kepercayaan bahwa Paus, Uskup Roma, adalah Wakil Kristus di bumi, kepala Gereja yang kelihatan, dan pewaris langsung dari rasul Petrus. Dalam Konsili Vatikan I (1870), dinyatakan bahwa:
"Jika seseorang berkata bahwa Paus Roma tidak memiliki kuasa utama atas seluruh Gereja... biarlah ia terkutuk."
Paus dianggap sebagai pemimpin rohani tertinggi, memiliki kuasa tertinggi dan universal atas seluruh gereja. Ia dapat berbicara dengan otoritas tak dapat salah (ex cathedra) bila menyangkut iman dan moral. Ia disebut sebagai Vikaris Kristus, dan bahkan kadang-kadang disebut “pengganti Allah di bumi”. Semua uskup, imam, dan umat harus tunduk sepenuhnya padanya.
Namun pertanyaannya adalah: Apakah klaim ini memiliki dasar dalam Kitab Suci dan sejarah gereja mula-mula?
2. Apakah Petrus Pernah Menjadi Paus?
Klaim Roma bahwa paus adalah penerus dari Rasul Petrus bergantung pada kepercayaan bahwa Petrus adalah Paus pertama, dan bahwa ia menduduki takhta di Roma. Tetapi Alkitab tidak pernah menyebut Petrus sebagai paus, tidak pernah mengatakan bahwa ia menjadi kepala gereja, dan tidak pernah menyebut bahwa ia menetap di Roma sebagai uskup di sana.
Memang benar Petrus memiliki posisi terkemuka di antara para rasul — ia sering berbicara lebih dulu, dan namanya sering disebut pertama. Namun, tidak ada indikasi bahwa ia memiliki otoritas di atas rasul-rasul lain. Dalam Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa keputusan-keputusan penting diambil secara kolektif oleh para rasul dan penatua — bukan oleh Petrus seorang diri.
Contohnya, dalam Konsili Yerusalem (Kisah 15), ketika gereja membahas apakah orang bukan Yahudi perlu disunat untuk diselamatkan, Petrus memang berbicara, tetapi yakobus, saudara Yesus, yang memberikan keputusan akhir. Ini sangat penting — sebab jika Petrus adalah pemimpin tertinggi, maka ia seharusnya yang mengeluarkan keputusan, bukan orang lain.
Lebih lagi, dalam surat kepada jemaat Galatia, Paulus mengatakan bahwa ia menegur Petrus secara terbuka karena munafik (Galatia 2:11–14). Apakah masuk akal bahwa seorang rasul akan berani menegur seorang paus?
3. Apakah Petrus Pernah di Roma?
Roma mengklaim bahwa Petrus adalah uskup pertama di Roma dan menjadi pemimpin gereja di sana selama 25 tahun — dari sekitar tahun 42 M sampai kematiannya sebagai martir sekitar tahun 67 M. Namun, tidak ada bukti Alkitabiah yang menyatakan Petrus pernah berada di Roma.
Kitab Kisah Para Rasul — yang mencatat aktivitas para rasul hingga sekitar tahun 62 M — tidak pernah menyebutkan bahwa Petrus pergi ke Roma. Sebaliknya, kisah itu berakhir dengan Paulus di Roma, tanpa sedikit pun menyebut Petrus berada di sana. Bahkan dalam surat-surat Paulus yang ditulis dari Roma (misalnya Filipi, Efesus, Kolose, dan 2 Timotius), tidak pernah sekalipun Petrus disebut — padahal Paulus menyebut banyak orang lainnya.
Jika Petrus benar-benar adalah uskup Roma dan pemimpin gereja di sana, mustahil rasul Paulus mengabaikannya dalam surat-suratnya — terutama ketika ia menulis dari penjara Roma dan merasa sangat kesepian. Hal ini menunjukkan bahwa Petrus kemungkinan besar tidak tinggal lama di Roma, jika pernah ke sana sama sekali. Sejarah awal kepausan menurut sumber-sumber Kristen mula-mula
Kapan gelar "Paus" pertama kali digunakan Perkembangan kekuasaan paus secara politis dan religius
4. Sejarah Awal Kepausan
Dalam catatan sejarah gereja mula-mula, tidak ada bukti bahwa Petrus pernah menjadi uskup di Roma, dan tidak ada daftar resmi para Paus sampai beberapa abad setelah zaman Kristus. Bahkan gereja Roma sendiri baru mulai menyusun daftar para Paus pada abad ke-3 atau ke-4, dan daftar awal itu saling bertentangan dan penuh ketidakpastian. Dalam beberapa versi, urutan para uskup berubah-ubah, dan ada nama-nama yang tidak bisa diverifikasi secara historis.
Gelar "Paus" (Papa, yang berarti “bapa”) tidak secara eksklusif dipakai untuk Uskup Roma hingga abad ke-6. Sebelumnya, gelar ini digunakan lebih umum untuk para uskup senior di berbagai tempat. Bahkan Uskup Antiokhia juga pernah memakai gelar itu.
Uskup Roma pertama yang secara historis dapat diverifikasi dengan otoritas luas adalah Leo I (440–461 M), yang juga disebut Leo Agung. Ia adalah orang pertama yang benar-benar menyatakan supremasi Uskup Roma atas semua gereja lainnya dan mulai mengembangkan teori bahwa Paus adalah penerus langsung Rasul Petrus. Tetapi bahkan pada masa Leo, klaim tersebut ditentang keras oleh para uskup di Timur, seperti di Konstantinopel, Antiokhia, dan Alexandria, yang menolak tunduk pada Uskup Roma.
Selama beberapa abad, Uskup Roma hanyalah satu dari lima pusat utama Kekristenan: Yerusalem, Antiokhia, Alexandria, Konstantinopel, dan Roma — dikenal sebagai Pentarki. Bahkan Konsili Nicaea I (325 M) tidak memberikan kekuasaan istimewa kepada Roma, hanya menyebutkan bahwa uskup di setiap wilayah besar memiliki yurisdiksi di wilayahnya masing-masing.
5. Paus sebagai Kekuasaan Politik
Kekuatan politik dan duniawi kepausan tidak dimulai karena mandat ilahi, tetapi karena aliansi politis. Titik balik besar terjadi pada abad ke-8, ketika Paus Stefanus II meminta bantuan militer dari raja Pepin dari bangsa Franka untuk melindungi wilayah Roma dari invasi Lombard. Sebagai balasannya, Pepin memberikan kepada Paus sejumlah tanah — yang kemudian dikenal sebagai Negara Gereja (Papal States) — dan menjadikan Paus sebagai penguasa politik independen.
Selanjutnya, Charlemagne (Karel Agung) dinobatkan oleh Paus Leo III sebagai “Kaisar Romawi Suci” pada tahun 800 M. Penobatan ini menandai awal dari penyatuan antara kekuasaan gereja dan negara, dan memberi dasar bagi kekuasaan duniawi Paus di Eropa Barat.
Selama berabad-abad berikutnya, Paus menjadi salah satu penguasa paling kuat di dunia, mengatur kerajaan, menobatkan dan memecat raja, memungut pajak, dan bahkan memerintahkan perang salib. Kekuasaan rohani berubah menjadi kekuasaan politik, dan korupsi pun meluas.
6. Gelar-Gelar dan Klaim Paus
Beberapa gelar resmi Paus, sebagaimana tercantum dalam Annuario Pontificio (direktori resmi Vatikan), meliputi:
1. Uskup Roma
2. Wakil Kristus
3. Penerus Pangeran Para Rasul (yaitu Petrus)
4. Imam Tertinggi Gereja Universal
5. Patriark Barat
6. Primas Italia
7. Uskup Agung dan Metropolitan Provinsi Roma
Penguasa Negara Kota Vatikan
8. Hamba dari Hamba-hamba Allah (Servus servorum Dei)
Dari semua gelar ini, yang paling terkenal adalah “Vikaris Kristus”. Ini berarti bahwa Paus berdiri menggantikan Kristus di bumi. Namun gelar seperti itu sangat berbahaya secara rohani, karena dalam Kitab Suci, hanya Roh Kudus yang disebut sebagai wakil Kristus (Yohanes 14:26; 16:7–15). Tidak ada manusia yang diberi gelar atau kuasa seperti itu.
7. Ketidaksesuaian Doktrin Infalibilitas Paus
Salah satu doktrin paling radikal dalam Katolik Roma adalah bahwa Paus tidak dapat salah (infallible) ketika berbicara secara resmi (ex cathedra) dalam hal iman dan moral. Doktrin ini dideklarasikan secara resmi oleh Konsili Vatikan I tahun 1870, meskipun selama berabad-abad sebelumnya sudah mulai berkembang.
Namun, sejarah menunjukkan dengan jelas bahwa banyak Paus telah melakukan kesalahan serius, bahkan bertentangan satu sama lain dalam hal ajaran dan keputusan. Berikut adalah beberapa contoh:
Paus Honorius I (625–638) secara resmi dikutuk sebagai bidat oleh tiga konsili gereja (Konsili Konstantinopel III, 680–681; dan dua lainnya kemudian), karena mendukung ajaran sesat Monotelitisme. Ia juga dikutuk oleh Paus-paus setelahnya.
Paus Liberius (352–366) menandatangani pengakuan iman Arian (yang menyangkal keilahian Kristus), kemudian menyesalinya.
Paus Zosimus (417–418) pertama mendukung bidat Pelagius, lalu mencabut dukungannya karena tekanan.
Paus Pascal II (1099–1118) dan Paus Eugenius IV (1431–1447) secara terbuka membatalkan keputusan pendahulunya dalam hal pernikahan dan konsili.
Selama masa Skisma Besar (1378–1417), terdapat tiga Paus yang saling mengklaim sebagai Paus sah, saling ekskomunikasi, dan memimpin gereja dari Roma, Avignon, dan Pisa.
Bagaimana mungkin ketiganya “tidak mungkin salah” secara bersamaan?
8. Paus-Paus yang Tidak Bermoral
Sejarah mencatat bahwa banyak Paus hidup dalam cara yang sangat tidak bermoral — beberapa bahkan lebih menyerupai penguasa politik atau mafia daripada pemimpin rohani. Berikut beberapa contoh yang juga dibahas dalam sejarah gereja:
Paus Sergius III (904–911) naik takhta setelah membunuh dua pendahulunya. Ia dikenal memiliki hubungan skandal dengan wanita bangsawan Roma, Marozia, yang kemudian menjadikan anaknya (dari Sergius) sebagai Paus Yohanes XI.
Paus Yohanes XII (955–964) adalah contoh tragis pemimpin gereja yang kejam dan bejat; ia mengubah Lateran (istana kepausan) menjadi rumah bordil, dan akhirnya mati dibunuh oleh suami dari salah satu selirnya.
Paus Alexander VI (1492–1503) (dari keluarga Borgia) terkenal karena skandal seks, nepotisme, pembunuhan politik, dan pesta-pesta amoral. Ia mengangkat anak-anaknya sendiri menjadi kardinal dan uskup.
Paus Leo X (1513–1521) dikenal karena kemewahan, penjualan indulgensi (yang memicu protes Martin Luther), dan pernyataannya yang terkenal: “Betapa menguntungkannya dongeng tentang Yesus Kristus ini bagi kita.”
Bagaimana mungkin orang-orang seperti ini disebut “Wakil Kristus” dan pemimpin yang tidak mungkin salah dalam iman dan moral?
9. Yesus Kristus sebagai Satu-satunya Kepala Gereja
Dalam Alkitab, tidak ada pemimpin manusia yang disebut sebagai kepala gereja. Yang ada hanyalah:
“Kristus adalah kepala jemaat.” (Efesus 5:23)
“Ia adalah kepala tubuh, yaitu jemaat.” (Kolose 1:18)
Paus tidak pernah disebut dalam Perjanjian Baru. Tidak ada sistem kepausan, tidak ada otoritas pusat global, tidak ada uskup universal. Gereja mula-mula dipimpin secara lokal oleh penatua/gembala/uskup dalam setiap jemaat, dan otoritas rohani diberikan kepada semua orang percaya, bukan kepada satu orang.
Yesus memperingatkan murid-murid-Nya untuk tidak mencari posisi atau gelar kehormatan seperti para pemimpin agama Yahudi. Ia berkata:
“Jangan kamu disebut Rabi, karena hanya satu Gurumu dan kamu semua adalah saudara... Dan janganlah kamu menyebut siapa pun di bumi ini Bapamu, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga.” (Matius 23:8–9)
Namun Paus disebut “Bapa Suci” (Holy Father) — gelar yang tidak pernah diberikan dalam Alkitab kepada siapa pun kecuali Allah sendiri (Yohanes 17:11). Ini adalah bentuk pengambilan alih otoritas yang seharusnya hanya dimiliki oleh Kristus.
10. Kesimpulan Bab 3
Kepausan bukanlah lembaga yang didirikan oleh Kristus atau para rasul. Ia adalah hasil dari perkembangan politik dan gerejawi yang lambat selama berabad-abad. Ia telah membawa banyak penyimpangan dan penyalahgunaan, mengalihkan perhatian umat dari Kristus kepada lembaga manusia, dan dari Injil kepada ritual serta otoritas buatan.
Satu-satunya pemimpin sejati Gereja adalah Yesus Kristus, dan satu-satunya dasar iman adalah Firman Allah, bukan tradisi manusia atau keputusan Paus.