TANPA KERAGUAN
TANPA KERAGUAN
Kritik terhadap tesis "Gilgamesh menyalin kisah Air Bah Nuh dari kebudayaan Yahudi" berpusat pada hal teknis dan pertanyaan teknis.
Hal teknis itu adalah huruf paku atau CUNEIFORM.
Sementara pertanyaan teknisnya adalah APAKAH HURUF PAKU YANG DIGUNAKAN PADA MASA GILGAMESH MENJADI RAJA MASIH DIGUNAKAN SAAT ASHURBANIPAL BERKUASA?
E.Martynova dalam ????????????? ?????? ??????? ??????????, ??????–??????? 2011 p.39 memberi jawaban:
While the cuneiform writing system was created and used at first only by the Sumerian, it did not take long before neighboring groups adopted it for their own use.
By about 2500 BCE, the Akkadian, a Semiticspeaking people that dwelled north of the Sumerians, started using cuneiform to write their own language.[1] However, it was the ascendency of the Akkadian dynasty in 2300 BCE that positioned Akkadian over Sumerian as the primary language of Mesopotamia. While Sumerian did enjoy a quick revival, it eventually became a dead language used only in literary contexts, whereas Akkadian would continue to be spoken for the next two millenniums and evolved into later (more famous) forms known as Babylonian and Assyrian.
Terjemahan bebas dari pernyataan Martynova adalah:
Meskipun sistem penulisan paku diciptakan dan digunakan pada awalnya hanya oleh bangsa Sumeria, tidak butuh waktu lama
sebelum kelompok-kelompok tetangga mengadopsinya untuk penggunaan mereka sendiri.
Sekitar tahun 2500 SM, bangsa Akkadia, bangsa yang berbahasa Semit yang tinggal di utara bangsa Sumeria, mulai menggunakan
paku untuk menulis bahasa mereka sendiri.[1] Namun, naiknya dinasti Akkadia pada tahun 2300 SM-lah yang menempatkan Akkadia di atas Sumeria sebagai bahasa utama Mesopotamia. Meskipun bahasa Sumeria mengalami kebangkitan yang cepat,
akhirnya bahasa ini menjadi bahasa mati yang hanya digunakan dalam konteks sastra, sementara bahasa Akkadia akan terus dituturkan selama dua milenium berikutnya dan berkembang menjadi bentuk-bentuk selanjutnya (yang lebih terkenal) yang dikenal sebagai Babilonia dan Asiria.
Kesimpulannya adalah:
Pada masa Ashurbanipal berkuasa, huruf paku yang digunakan pada masa Gilgamesh, masih tetap digunakan.
Sehingga penyusunan kanonisasi lengkap epos Gilgamesh sebagaimana ditemukan di kota Niniwe, pada perpustakaan raja Ashurbanipal adalah hasil karya ahli sastra istana yang rajanya memerintah 700 tahun sebelum kelahiran Yeshua atau 700 tahun setelah Musa menulis Taurat dan 300 tahun setelah Daud memerintah di Israel serta mengatur tata ibadah umat.
Ditambah fakta penaklukan Jerusalem oleh Nebukadnezar pada tahun 605 sebelum masehi atau kurang lebih 100 tahun sebelum masa kekuasaan Ashurbanipal - yang menyebabkan orang-orang Yahudi diangkut ke wilayah Babilonia selanjutnya Median-Persia, orang Mesopotamia lah yang menjiplak kisah air bah dari orang Yahudi yang memiliki urutan peristiwa yang lebih sistematis dan lebih historis.