BAPTISAN DAN KESATUAN DENGAN KRISTUS


Di sepanjang buku ini, kami bertujuan untuk mencapai pemahaman praktis tentang makna baptisan. Kita mulai dengan mempelajari beberapa aspek fundamental dari baptisan sebagaimana yang diajarkan dalam Alkitab. Salah satu alasan buku ini disusun adalah karena orang-orang yang sedang mempertimbangkan baptisan perlu mengetahui arti baptisan. Kemudian ada juga orang Kristen yang tidak mengerti makna baptisan walaupun sudah pernah dibaptis. Yang terakhir adalah adanya orang non-Kristen yang belum sampai ingin dibaptis, tetapi ingin memahami maknanya.

Dalam buku ini, saya berusaha menghindari pemakaian bahasa yang bersifat teknis, dan akan menguraikan pokok tentang baptisan dalam bahasa yang lugas dan praktis agar setiap orang bisa memahami makna baptisan bagi kehidupan nyata kita. Banyak orang yang pernah mencoba mempelajari pokok tentang baptisan dari berbagai buku, tetapi kemudian menyerah dan tidak mau melanjutkan begitu mendapati bahwa pembahasannya bersifat terlalu akademis dan abstrak.

Bagi kita yang sudah pernah dibaptis, mungkin akan bermanfaat jika kita meninjau kembali beberapa pertanyaan penting seperti: Pada saat anda dibaptis, hal apakah yang sebenarnya telah berlangsung antara anda dengan Allah? Pada hari pembaptisan anda, adakah suatu transformasi terjadi di dalam diri anda? Apakah baptisan anda merupakan suatu peristiwa yang sudah selesai, atau apakah masih memberi makna bagi kehidupan sehari-hari anda sekarang ini?

Ada lagi pertanyaan yang bersifat lebih umum: Jika seseorang belum dibaptis, apakah dia bisa disebut sebagai orang Kristen? Ketika saya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi Alkitab, ada seorang rekan mahasiswa yang bertanya kepada saya, "Saya belum pernah dibaptis. Apakah arti baptisan itu? Mengapa saya harus dibaptis?" Dia sudah menjalani kehidupan Kristen selama bertahun-tahun dan bahkan sudah mengabdikan diri untuk melayani Allah, tetapi dia tidak tahu makna baptisan, dan oleh karena itu tidak pernah dibaptis. Kemudian saya mendiskusikan ajaran-ajaran Alkitab mengenai baptisan dengan dia, dan akhirnya dia menjalani baptisan.

## Baptisan adalah perjanjian persatuan dengan Kristus

Kita akan mengawali pesan ini dengan satu kalimat ringkas yang menjelaskan baptisan: **baptisan adalah sakramen persatuan**. Anda mungkin bertanya, "Definisi ini mungkin ringkas, tetapi saya tidak bisa memahaminya." Tidak masalah, kita hanya perlu berfokus pada kata "persatuan" yang maknanya sudah cukup akrab bagi kita. Baptisan, tentu saja, memiliki arti lebih dari sekadar persatuan, tetapi konsep persatuan merupakan inti dari makna baptisan.

Istilah yang terasa kurang akrab di telinga kita dalam definisi tersebut adalah kata "sakramen", sebuah kata yang berarti ekspresi lahiriah dari sesuatu yang terjadi dalam diri anda. Di gereja, kita memiliki dua sakramen: sakramen persatuan, yakni baptisan, dan sakramen perjamuan. (Kita akan membahas lebih jauh mengenai sakramen ini di dalam bab 3.)

Kita juga bisa menggambarkan baptisan sebagai suatu ikatan perjanjian: **Baptisan adalah ikatan perjanjian persatuan**. Di sini kita melihat lagi pemakaian kata "persatuan". Persatuan dengan siapa? Persatuan dengan Kristus.

Gambaran tentang pernikahan akan sangat membantu kita dalam memahami maksud dari definisi tersebut, karena ikatan pernikahan juga merupakan suatu bentuk ikatan perjanjian persatuan antara dua pribadi, sama seperti baptisan merupakan perjanjian persatuan antara kita dengan Kristus.

Apakah landasan alkitabiah bagi perbandingan antara baptisan dengan pernikahan? Ada banyak rujukan dalam Kitab Suci yang menjadi landasannya, tetapi saya akan menyentuh satu atau dua ayat saja dalam pembahasan ini. Titik awal pembahasan kita adalah 1 Korintus 6:17, "Akan tetapi, orang yang mengikatkan diri dengan Tuhan menjadi satu roh dengan-Nya." Renungkanlah kalimat yang sangat penting ini, terutama ungkapan "mengikatkan diri". Jika anda sudah mengikatkan diri dengan Kristus, kapan dan di manakah peristiwa penyatuan itu berlangsung? Jawaban dari Alkitab adalah anda mengikatkan diri pada Kristus pada saat anda dibaptis. Roma 6:3-5 mengatakan bahwa pada saat dibaptis kita "dijadikan satu" dengan Kristus.

Di ayat yang baru saja kita baca itu (1 Kor 6:17), kata Yunani yang diterjemahkan oleh ungkapan "mengikatkan diri" (*kolla?*) merupakan kata yang juga digunakan di Matius 19:5 yang menguraikan tentang hal suami dan istri yang "bersatu" dalam ikatan nikah.

Ada juga rujukan di Efesus 5:22-33, sebuah perikop yang sering dibacakan dalam acara pernikahan. Menariknya, tepat di tengah perikop ini, di bagian ayat 25 sampai 26, muncul rujukan tentang baptisan: "Kristus mengasihi jemaat dan memberikan dirinya bagi jemaat, untuk menguduskan mereka dengan membersihkannya lewat pembasuhan air dengan firman." Dalam jarak beberapa ayat berikutnya, Paulus mengulangi ungkapan yang baru saja kita baca dari Matius 19:5, "Itulah sebabnya, seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu tubuh" (Ef 5:31).

Yang terakhir, Alkitab menggambarkan Yesus Kristus sebagai mempelai pria bagi gereja. Paulus berkata kepada jemaat di Korintus, "aku sudah menunangkan kamu dengan satu suami, yaitu mempersembahkanmu sebagai perawan yang suci kepada Kristus" (2 Kor 1:2). Di sini kembali dipakai gambaran dari ikatan pernikahan, hal yang sering muncul dalam Alkitab, untuk memberikan ilustrasi tentang persatuan antara umat Allah dengan Kristus.

## Baptisan, sama seperti pernikahan, tidak boleh dilangkahi

Bagi seorang pria dan seorang wanita yang akan bersatu sebagai suami dan istri, apakah mereka perlu ikatan pernikahan? Dapatkah mereka menjadi suami dan istri tanpa ikatan pernikahan? Jawaban universalnya adalah "tidak". [Catatan dari editor: Pernyataan ini umumnya benar pada tahun 1975, tahun khotbah ini disampaikan.] Anda bukanlah suami dan istri jika berada di luar ikatan pernikahan, dan hal ini umumnya berlaku di berbagai masyarakat dunia, mulai dari masyarakat primitif sampai yang paling modern. Tidak ada masyarakat yang akan mengakui dua orang sebagai suami dan istri jika tidak memiliki ikatan nikah.

Mengapa kita tidak boleh mengabaikan urusan pernikahan ini? Alasannya adalah karena pernikahan itu bukan sekadar upacara, pernikahan merupakan suatu ikatan perjanjian. Ikatan perjanjian adalah suatu kontrak yang melibatkan dua pihak, suatu kontrak di mana keduanya saling mengikatkan diri satu sama lain. Selama masih belum ada ikatan perjanjian atau kontrak antara kedua pribadi yang bersangkutan, maka cinta mereka dianggap belum memiliki wujud nyata karena belum diteguhkan dalam suatu bentuk perjanjian yang mengikat keduanya. Tidak peduli seberapa besar cinta mereka satu sama lain di dalam hati, mereka tetap bukan suami dan istri.

Dalam kaitannya dengan ikatan perjanjian atau kontrak ini, kami tidak bermaksud mengatakan bahwa mereka harus menjalani pernikahan di gereja. Sekalipun mereka tidak menjalani pernikahan di gereja, mereka tetap harus mendaftarkan diri ke kantor pemerintah untuk membuat akta nikah, yang berisi pernyataan seperti, "Pada hari ini kami menjadi suami dan istri." Orang non-Kristen juga mengetahui bahwa tanpa ikatan perjanjian atau kontrak antara kedua pribadi yang bersangkutan, maka mereka bukanlah suami dan istri.

Di kantor catatan sipil, mereka juga akan membutuhkan adanya dua atau tiga orang saksi yang akan ikut menandatangani akta nikah tersebut. Mengapa perlu ada saksi? Mereka dibutuhkan sebagai pihak-pihak yang akan memberi keterangan yang meneguhkan bahwa sebuah ikatan perjanjian telah dibuat dan disahkan di hadapan mereka. Prosedur ini dilandasi oleh pandangan bahwa hubungan persatuan laki-laki dan perempuan belum memiliki peneguhan resmi sebelum dibuat suatu ikatan perjanjian yang menyatukan mereka.

Serupa dengan itu, orang bisa saja menyatakan bahwa dia percaya kepada Allah dan kepada Yesus Kristus, dan bahwa dia mengasihi Allah serta ingin mengikut Yesus. Namun, selama dia belum memasuki suatu ikatan perjanjian dengan Allah melalui Kristus, maka dia masih belum menjadi Kristen, karena melalui ikatan perjanjian itulah kita mengikatkan diri satu sama lain. Sebelumnya tidak ada komitmen formal. Sekalipun di dalam hati sudah ada suatu komitmen, tetapi komitmen itu masih belum dinyatakan secara resmi di hadapan para saksi. Baptisan bukanlah sekadar suatu upacara, tetapi suatu ikatan perjanjian.

Kata "perjanjian" sering dipakai di dalam Alkitab. Itu sebabnya kita memiliki bagian kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kata "perjanjian" yang dipakai di sini diterjemahkan dari kata Yunani (*diath?k?*) yang memiliki makna "ikatan perjanjian".

Demikianlah, kita dijadikan satu dengan Kristus pada saat kita dibaptis. Persatuan ini tidak sekadar dilandasi oleh perasaan saja, tetapi suatu komitmen nyata yang diteguhkan dalam ikatan perjanjian.

## Tujuh poin perbandingan antara baptisan dengan pernikahan

Sekarang kita akan membahas lebih jauh ke dalam pokok ini melalui perbandingan antara persatuan antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan dengan persatuan antara kita dan Kristus dalam baptisan.

**Pertama**, dua orang yang mengikatkan diri dalam perjanjian nikah melakukannya dengan dasar saling mengasihi. Demikianlah, di dalam baptisan kita juga menyerahkan diri kita kepada Kristus untuk menyatakan kasih kita kepada dia. Anda tidak akan mau menikah dengan seseorang hanya karena kebetulan anda "menyukai" orang itu dalam arti yang tidak jelas. Pernikahan semacam itu tidak akan langgeng. Sebaliknya, anda harus benar-benar mengasihi orang tersebut sampai ke tahap rela menjalani hidup bersamanya dalam komitmen yang total. Demikian pula halnya orang Kristen dalam hubungan mereka dengan Kristus. Kita tidak boleh masuk ke dalam persatuan dengan Kristus hanya karena kita menyukai atau mengagumi dia ke tahap tertentu, melainkan karena kita memang rela menyerahkan diri sepenuhnya kepada dia, dan yang terutama kepada Allah. Kita ingin menjalani hidup kita bersama Kristus.

**Kedua**, baptisan—seperti halnya dengan pernikahan—merupakan pernyataan cinta di depan umum untuk orang tersebut. Dalam baptisan, saya membuat pernyataan di depan para saksi—di depan semua orang dan di depan segala kuasa roh di surga dan di bumi—bahwa saya mengasihi Yesus Kristus dan terutama Allah Bapa.

**Ketiga**, dalam menyatakan komitmen saya kepada Kristus, saya berpisah dengan cara hidup saya yang lama. Hal ini juga berlaku dalam ikatan pernikahan. Setelah anda menikah, hidup anda tidak sama lagi dengan yang dulu, karena anda sekarang telah memasuki kehidupan baru dalam kemitraan dengan orang lain. Bukan lagi merupakan kehidupan yang mengutamakan kepentingan pribadi, di mana kita hanya melakukan kehendak kita sendiri, karena sudah ada orang lain yang akan menerima curahan kasih dan kepedulian kita. Hidup kita berubah sepenuhnya.

Pada saat dibaptis saya mati terhadap cara hidup lama saya—terhadap cara hidup yang dikuasai oleh dosa dan keegoisan—karena telah bersatu dengan Kristus dengan menjadi satu dalam kematiannya. Sekarang saya memasuki hidup yang baru dan benar dalam persekutuan dengan Kristus, dijadikan satu dengan dia di dalam kebangkitannya (Rm 6:5,11).

**Keempat**, jika ada kasih yang sejati antara kedua orang yang bersangkutan, masing-masing akan menempatkan kepentingan yang lain di atas kepentingannya sendiri. Masing-masing akan mementingkan yang lain, bukan dirinya sendiri lagi. Ada yang mengorbankan kepentingan pribadinya bahkan juga karirnya untuk mendampingi sang suami. Demikian pula halnya dalam baptisan, kita berikrar, "Mulai sekarang, kepentingan Kristus berada di atas kepentingan saya pribadi. Kepentingannya—yang selalu selaras dengan kehendak Bapa—akan menjadi prioritas utama mengatasi hubungan sosial dan bahkan cita-cita pribadi saya. Kepentingan Kristus menjadi titik pusat di dalam hati saya." Saya harap setiap orang Kristen memeriksa hati mereka masing-masing dan bertanya, "Apakah saya sudah berlaku tulus terhadap komitmen baptisan saya?"

**Kelima**, saat suami dan istri disatukan dalam ikatan pernikahan, mereka tidak mengambil jalannya masing-masing, di mana ada yang satu, maka yang satu lagi ada di sana juga. Akan menjadi pernikahan macam apa jika kedua pihak mengambil jalan masing-masing dan saling menghindari satu sama lain? Dalam sebuah pernikahan, anda tentu ingin selalu bersama dan menikmati kebersamaan itu. Orang Kristen sejati juga berlaku seperti itu, selalu berada dalam kesatuan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitannya menuju hidup yang baru. Hanya dengan cara itulah seorang Kristen diperdamaikan dengan Allah Bapa dan memiliki hubungan akrab yang kekal dengan Dia. Orang yang tidak berdoa serta tidak menikmati hubungannya dengan Allah adalah orang yang tidak tahu apa maknanya menjadi seorang Kristen.

**Keenam**, dalam sebuah pernikahan, istri yang penuh pengabdian akan berkata kepada suaminya, "Saya ingin agar engkau yang menjadi kepala rumah tangga ini." Setiap administrasi harus ada kepala. Keluarga adalah suatu unit sosial yang juga merupakan suatu administrasi yang harus memiliki pimpinan. Ada satu orang yang harus memikul tanggung jawab dalam berurusan dengan berbagai dokumen resmi serta membuat keputusan hukum bagi kepentingan keluarga. Ini bukan berarti terjadi hubungan yang tidak berimbang antara suami dan istri, melainkan karena di dalam hubungan saling mengasihi ini, mereka menunjukkan sikap saling menghormati walaupun caranya bisa berbeda-beda.

Demikian pula halnya dengan baptisan, orang Kristen akan mempersembahkan segala kehormatan bagi Kristus, untuk memuliakan Allah, Bapa dari Yesus Kristus. Orang Kristen sejati akan berkata, "Allah ialah Raja dan Tuan atas hidupku, dan aku akan mengikuti Mesias-Nya, yang sudah ditinggikan oleh Allah sebagai Penguasa (bdk. Kisah 2:36)."

**Ketujuh**, pada saat pernikahan, pihak suami dan istri saling bertukar tanda mata, biasanya berbentuk cincin. Apakah makna yang dikandung oleh cincin itu? Ini adalah lambang dari ikrar, "Saya berikan cincin ini sebagai tanda janji saya untuk tidak akan pernah meninggalkan atau menelantarkanmu." Demikian pula halnya ketika kita dibaptiskan, Allah memberi kita tanda mata, yakni Roh-Nya. Roh Kudus adalah tanda dari janji Allah kepada kita (2 Kor 1:22; 5:5; Ef 1:13), di mana Dia menjanjikan, "Aku tidak akan pernah meninggalkan atau menelantarkanmu." Kita akan membahas pokok penting ini secara lebih jauh di dalam bab 4.

Cincin itu juga menegaskan bahwa, "Aku akan memenuhi semua janjiku kepadamu." Pihak istri tahu bahwa suaminya akan memberi perlindungan pada saat ada bahaya, memenuhi kebutuhannya, serta memberinya dukungan nasihat dan petunjuk. Allah juga menjanjikan kita bahwa Dia akan menggenapi segala yang Dia janjikan kepada kita: Dia akan memenuhi kebutuhan kita, melindungi kita, membimbing kita, dan memberi kita hidup yang kekal.

## Dua poin perbedaan

Dengan membuat perbandingan antara baptisan dengan pernikahan bukan berarti bahwa kami bermaksud mengatakan bahwa baptisan itu sama dengan pernikahan. Meskipun ada beberapa kesejajaran yang menyolok di antara kedua hal ini mengingat keduanya adalah ikatan perjanjian persatuan, ada juga titik-titik perbedaan antara baptisan dengan pernikahan.

**Pertama**, masalah dosa merupakan persoalan utama dalam baptisan. Jika anda melihat seseorang dibenamkan ke dalam air, kemudian diangkat keluar dari dalam air, anda mungkin bertanya, "Ada apa ini? Apa pentingnya hal ini?" Untuk memahami arti penting dari tindakan ini, kita perlu memahami dosa yang merupakan sumber kesulitan di sini.

Sekalipun baptisan dan pernikahan adalah sama-sama sakramen persatuan, persatuan kita dengan Kristus merupakan urusan yang jauh lebih rumit daripada persatuan pernikahan karena realitas yang mematikan dari dosa. Dosa berdiri di antara kita dengan Allah, membuat urusan persatuan ini bukan saja sukar, tetapi bahkan mustahil.

Masalah ini biasanya tidak muncul dalam pernikahan antara dua insan, setidaknya tidak pada tingkat yang sama. Jika mereka memang benar-benar saling mengasihi di dalam pernikahan, itu saja sudah bisa mengatasi banyak sekali persoalan yang muncul.

Berlawanan dengan itu, beratnya persoalan dosa di dalam hubungan kita dengan Allah bisa diibaratkan seperti suatu skenario tentang dua orang yang menikah dan keduanya berasal dari dua keluarga yang sangat bermusuhan. Di sini kita bisa memahami masalah ekstrem yang menghantui persatuan ini.

Dosa menghalangi persekutuan kita dengan Allah; dosa adalah hambatan maut yang harus disingkirkan. Sebagai akibatnya, Allah—Dia yang telah mengasihi kita dan ingin mendamaikan diri kita kepada diri-Nya di dalam Kristus (2 Kor 5:19)—perlu mengutus Yesus untuk mati di kayu salib demi menyingkirkan rintangan dosa itu.

Ketika anda dibenamkan ke dalam air saat dibaptis, anda menyatakan bahwa anda sudah mati terhadap dosa—meninggalkan dosa—sehingga cara hidup anda yang lama itu sudah berakhir. Ketika anda diangkat keluar dari air, hal ini menandakan bahwa anda dibangkitkan menuju hidup yang baru dan yang benar, yang diberikan kepada kita dalam Kristus. Baptisan menyerang aspek dosa yang paling dalam dan paling mematikan. Baptisan bukanlah semacam upacara untuk mengikuti suatu agama. Bagaimanapun juga, kita tidak berminat dengan urusan mengikuti suatu agama.

**Kedua**, pada saat dibaptis kita berpindah dari dalam dosa menuju kebenaran, dari kegelapan menuju terang. Mulai saat kita dibaptis, kita menyerahkan hidup kita untuk menjalankan kehendak Allah setiap saat. Akan tetapi, dalam kebanyakan pernikahan, suami dan istri mengkhawatirkan hal-hal duniawi, dan ingin menyenangkan satu sama lain bahkan ketika itu bertentangan dengan prinsip masing-masing (1 Kor 7:33-34).

Kita sudah membahas pokok baptisan secara sangat sederhana dan saya harap uraian ini cukup jelas untuk dipahami oleh setiap orang, terutama mengenai makna dasarnya. Mereka yang sedang mempertimbangkan untuk menjalani baptisan perlu merenungkan masalah ini baik-baik.

Baptisan adalah suatu langkah besar dalam hidup anda, sama seperti pernikahan juga merupakan suatu langkah besar. Kita yang telah dibaptis dan dipersatukan dengan Kristus tidak boleh melupakan maknanya.

Di sisi lain, kami juga mengingat hak istimewa dan tanggung jawab yang menyertai baptisan. Ya, saya berbicara tentang hak istimewa. Ketika anda menghadapi kesulitan, ingatlah bahwa Allah mengasihi anda dan bahwa anda dipersatukan dengan Dia di dalam Kristus. Taruh kepercayaan anda pada Allah. Jangan pernah meragukan kasih dan perhatian-Nya kepada anda. Dia melihat air mata anda, mengetahui kesedihan anda, dan memperhatikan setiap situasi anda. Bawalah kekhawatiran anda kepada-Nya, dan anda akan mengetahui betapa Dia mengasihi anda. Hiduplah dengan benar untuk memuliakan Dia, supaya Dia bersukacita di dalam anda dan anda di dalam Dia.
-
Catatan: Ini adalah teks lengkap Bab 1 dari buku Baptisan dan Hidup Baru Arti Baptisan dalam Perjanjian Baru oleh Eric H.H. Chang.

...
Rahasia 300 Pahlawan Gideon

Kisah penyaringan pasukan Gideon dari 32.000 menjadi hanya 300 orang bukanlah sebuah kebetulan…

Tuesday, 10-Mar-2026

...
MAHKOTA DELIMA DAN MINYAK URAPAN

Materi ini Adalah Salah Satu Dari Materi Sekolah Taurat Dari Eits Chaim, Yang…

Monday, 09-Mar-2026

...
KETIKA PENDETA TAK LAGI DAMAI DENGAN PELAYANANNYA

Ada masa ketika seorang Pdt berdiri di mimbar dengan hati yang menyala. Khotbahnya…

Sunday, 08-Mar-2026

...
MASIKAH PENDETA DIPERCAYAI ? Refleksi Terhadap Moralitas Dan Etika Penggembalaan Dialam Gereja

Tulisan didalam gambar diatas menyatakan bahwa “pendeta adalah profesi yang mengalami penurunan #kepercayaan…

Saturday, 24-Jan-202

...
GENERASI DALAM PENCARIAN

Shalom kawan-kawan YWAMers di seluruh Indonesia! Keadaan dunia dan situasi dalam negeri yang…

Friday, 22-Aug-2025

...
WANITA DI GEREJA KORINTUS : Ada Apa Dengan Mereka ?

Pengantar Peran wanita dalam gereja adalah salah satu isu paling hangat dalam diskusi…

Wednesday, 23-Jul-20

  • ...
    Misa
    1. Misa adalah Jantung Sistem Katolik Roma Di dalam sistem Katolik Roma, Misa adalah pusat seluruh ibadah dan kehidupan rohani. Roma menyebut Misa…
  • ...
    Pengakuan Dosa kepada Imam
    1. Sakramen Pengakuan Dosa Dalam ajaran Katolik Roma, pengakuan dosa kepada imam (auricular confession) merupakan salah satu dari tujuh sakramen. Roma mengajarkan bahwa…
  • ...
    Ibadah Kepada Orang-Orang Kudus
    1. Penghormatan atau Penyembahan? Salah satu praktik menonjol dalam sistem Katolik Roma adalah doa dan penghormatan kepada orang-orang kudus yang telah meninggal. Roma…
  • ...
    Kedudukan Maria dalam Teologi Katolik Roma
    Dalam sistem Katolik Roma, Maria, ibu Yesus, menempati tempat yang sangat tinggi — bahkan lebih tinggi daripada yang diberikan Kitab Suci. Ia disebut…
  • ...
    Kedudukan Paus dalam Sistem Roma
    Salah satu pilar utama dari sistem Katolik Roma adalah kepercayaan bahwa Paus, Uskup Roma, adalah Wakil Kristus di bumi, kepala Gereja yang kelihatan,…
  • ...
    Pengertian yang Salah tentang Gereja
    Salah satu kekeliruan terbesar dalam sistem Katolik Roma adalah tentang pengertian "Gereja". Dalam pengajaran Roma, Gereja bukanlah persekutuan semua orang percaya sejati, melainkan…