Misa


1. Misa adalah Jantung Sistem Katolik Roma
Di dalam sistem Katolik Roma, Misa adalah pusat seluruh ibadah dan kehidupan rohani. Roma menyebut Misa sebagai:

1. Pengorbanan sejati,
2. Persembahan harian,
3. Dan perpanjangan dari kurban salib Kristus.

Dalam Katekismus Katolik, Misa disebut sebagai:
“Kur­ban Kristus yang sama yang terjadi di Kalvari, yang dihadirkan kembali secara tidak berdarah di atas altar oleh imam.” (Katekismus Gereja Katolik, paragraf 1367)

Setiap kali Misa dirayakan, menurut ajaran Roma, Yesus dikorbankan kembali secara mistis, meskipun tanpa pertumpahan darah. Roma mengklaim bahwa kurban salib tidak hanya terjadi sekali dalam sejarah, tetapi diperbaharui dan dihadirkan kembali dalam setiap Misa.

2. Transubstansiasi: Perubahan Roti dan Anggur Menjadi Tubuh dan Darah Kristus
Ajaran Katolik menyatakan bahwa pada saat konsekrasi dalam Misa, roti dan anggur secara ajaib berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, meskipun secara lahiriah tetap terlihat seperti roti dan anggur.

Proses ini disebut transubstansiasi, yang didefinisikan dalam Konsili Lateran IV (1215) dan dikukuhkan kembali dalam Konsili Trente (1545–1563).

Roma mengajarkan bahwa:
1.Tubuh dan darah sejati Yesus hadir secara fisik dalam hosti,
2. Dan karena itu, hosti boleh disembah sebagai Allah sendiri.
3. Misa bukan hanya peringatan, tapi pengorbanan sejati, dan imam bertindak sebagai imam pengantara, mempersembahkan Kristus kepada Allah.

3. Bertentangan dengan Ajaran Kitab Suci
Ajaran transubstansiasi dan kurban misa sangat bertentangan dengan ajaran Perjanjian Baru, yang menyatakan dengan tegas bahwa pengorbanan Kristus adalah satu kali untuk selamanya:

“Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar... Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus... dan telah mendapat kelepasan yang kekal bagi kita.” (Ibrani 9:11–12)

“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” (Ibrani 10:14) “Kristus tidak harus berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri... Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya... untuk menghapus dosa.” (Ibrani 9:25–26)

Misa menyiratkan bahwa pengorbanan Kristus belum cukup, bahwa Ia harus dipersembahkan kembali secara terus-menerus, dan bahwa imam manusia dibutuhkan untuk melanjutkan pengorbanan tersebut — semua ini meniadakan finalitas salib Kristus.

4. Sejarah Transubstansiasi dan Penolakannya
Ajaran tentang transubstansiasi tidak dikenal dalam Gereja Kristen mula-mula. Dalam dua atau tiga abad pertama, perjamuan kudus dipandang sebagai tindakan simbolis dan peringatan akan kematian Kristus, sesuai dengan perintah-Nya:

“Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (1 Korintus 11:24–25)

Tidak ada catatan dalam tulisan para Bapa Gereja awal yang menunjukkan bahwa roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah secara harfiah. Bahkan Agustinus, salah satu teolog terbesar Katolik sendiri, menyebut sakramen ini sebagai simbol atau tanda, bukan substansi sejati tubuh Kristus.

Baru pada abad ke-9, seorang biarawan bernama Paschasius Radbertus mulai mengajarkan bahwa roti dan anggur menjadi tubuh dan darah sejati Kristus. Namun pandangan ini ditentang keras oleh banyak teolog sezamannya, seperti Ratramnus dan Berengarius.

Ajaran ini baru ditegaskan secara resmi oleh Konsili Lateran IV pada tahun 1215, hampir 1.200 tahun setelah kematian dan kebangkitan Kristus.

5. Penyembahan Hosti dan Sakramen
Karena hosti dianggap sebagai tubuh Kristus yang sejati, Roma mengajarkan bahwa hosti boleh disembah, diarak, dan diletakkan dalam monstrans (tempat emas yang megah untuk menampilkannya). Bahkan ada hari khusus yang disebut Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Corpus Christi), di mana hosti diarak keliling kota dan orang-orang bersujud di hadapannya.

Ini adalah bentuk penyembahan kepada benda mati, yang sangat dilarang dalam Kitab Suci:
“Mereka menukar kemuliaan Allah yang tidak fana dengan patung yang menyerupai manusia yang fana...” (Roma 1:23)

Yesus tidak pernah memerintahkan agar roti disembah. Ia tidak pernah mengajarkan bahwa tubuh-Nya akan hadir secara fisik dalam sakramen. Ia berkata:

“Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”( Yohanes 6:63)

Perjamuan kudus adalah peringatan akan karya salib, bukan pengulangan kurban. Itu adalah tindakan iman, bukan ritual sihir yang mengubah zat.

Kesimpulan :
Ajaran tentang Misa, transubstansiasi, dan pengorbanan Kristus secara berulang-ulang:

1. Tidak memiliki dasar dalam Kitab Suci,
2. Bertentangan langsung dengan ajaran Ibrani,
3. Melanggar finalitas dan kemuliaan pengorbanan salib, dan
4. Mengaburkan Injil anugerah, menggantinya dengan sistem sakramental yang dikontrol oleh imam.

Dalam Roma, Misa menjadi alat untuk:
1. Menakut-nakuti umat,
2. Mengontrol dosa dan pengampunan,
3. Dan mengganti posisi Kristus dengan perantara manusia dan ritual.

Alkitab mengajarkan bahwa: “Kristus sekali untuk selama-lamanya telah mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban.” (Ibrani 9:28) Karena itu, Misa bukanlah kelanjutan dari Perjamuan Tuhan yang Alkitabiah, melainkan suatu sistem liturgi dan dogmatis yang menyimpang dari iman mula-mula.