GILGAMESH Vs TORAH

Aku memutuskan menuliskan bagian ini mendahului bagian silsilah para raja untuk menjelaskan posisiku pada teks Gilgamesh.

Pertama, kisah utuh Gilgamesh yang ada di tangan kita pembaca modern adalah proses evolusi dari teks itu sendiri. Bagian lengkap kedua belas teks itu datang dari penggalian artefak di lokasi perpustakaan raja Ashurbanipal yang memerintah sekitar 7 abad sebelum kelahiran Kristus.
Jika tahun itu yang dipakai sebagai rujukan maka rentang waktu antara penulisan Taurat oleh Musa (2448-tahun para bapa) kurang lebih 700 tahun. Secara teknis, teks utuh pada perpustakaan Ashurbanipal datang setelah kisah kisah dalam kitab Taurat.

Kedua, ada banyak versi Gilgamesh dalam banyak bahasa termasuk kisahnya dalam teks teks Yunani, selain dari teks Akkadia. Isi tiap kisah dalam tiap bahasa dipengaruhi oleh setting masyarakat dari mana teks-teks itu lahir. Para kritikus sastra, dengan melihat isi puisi-puisi Gilgamesh memberi catatan garis tebal pada peran perempuan dalam masyarakat dari mana teks teks itu datang yang satu sama lain tidak saling mendukung. Jadi jika analisis konsistensi kisah Gilgamesh dihubungkan dengan konsistensi kitab Taurat, maka kita menemukan strata Gilgamesh berada satu tingkat di bawah Taurat dalam hal ini. Konsistensi.

Jika teks yang berbeda-beda itu membuktikan bahwa Gilgamesh adalah tokoh riil sejarah, maka tabel yang aku publish kemarin mengkonfirmasi bahwa tokoh itu hidup pada periode yang sama dengan Nuh.
Tetapi tabel sederhanaku menyajikan rentang waktu kurang lebih 300 tahun dari masa Gilgamesh menjadi raja ke peristiwa air bah dalam kisah Nuh.
Kembali pada poin pertama, kisah banjir dalam puisi puisi Gilgamesh datang dari periode yang lebih muda mendorong kesimpulan bahwa para penulis kisah itu menyalin kisah yang ada dalam masyarakat Yahudi (penting diingat bahwa Abraham sebagai leluhur pertama orang Yahudi adalah orang Mesopotamia yang keluar dari kota Ur-kasdim dan menetap di Haran sebelum masuk ke wilayah Kanaan sebagai tanah terjanji).

Ketiga, dengan mengesampingkan fakta bahwa orang orang Yahudi pernah diangkut oleh Nebukadnezar dalam penawanan di Babel dan hidup akrab dengan orang-orang Babilonia, terbuka kekemungkinan bahwa kedua teks itu tidak saling berhubungan dan tidak saling menyalin. Namun kisah tentang air bah adalah kisah yang diketahui secara luas oleh orang-orang Mesopotamia sejak negeri itu meneguhkan diri sebagai pusat civilisasi hingga periode perjumpaan mereka dengan lingkungan kebudayaan lain.

Bagi pembaca teks Taurat tersedia catatan baku bahwa seluruh isi Taurat disalin Musa dari firman Yahweh sendiri. Catatan itu menjelaskan dua hal. Pertama, keberadaan Israel di Mesir yang cukup lama - entah anda menerima teori 350 tahun atau 400+ tahun - adalah keberadaan bangsa yang bermula dari sebuah keluarga sebelum kemudian menjadi dua belas suku dengan pusat devosi pada persembahan di atas mesbah.
Kedua, jika kisah tentang air bah hidup di antara suku suku Israel di Mesir dari proses "menyalin cerita lisan" (urutannya dapat disederhanakan dari 12 anak Yakub ke ayah mereka, naik kepada Ishak kakek mereka, dan Abraham buyut mereka yang ayahnya masih bertemu dengan Sem putra sulung Nuh. Para sarjana sepakat, saat Abraham lahir, Sem bahkan masih hidup) - maka kisah itu sudah diketahui orang Yahudi sebelum Musa menulis Taurat.

Dengan kembali membaca kitab Keluaran, kita tahu, bahwa permintaan Musa kepada Firaun hanya satu. Melepaskan Israel keluar dari Mesir agar mereka dapat berdoa kepada Yahweh.

Sumber gambar: BBC News, 2021.