MEMBANTAH TEORI EVOLUSI
Pernahkah kamu mendengar ungkapan, “Fakta itu berbicara sendiri”? Nah, coba pikirkan sejenak. Apakah itu benar? Jawabannya: tidak selalu. Memang, ada beberapa fakta yang bila digabungkan tampak memiliki satu penjelasan yang jelas, tetapi itu tidak selalu terjadi.
Setiap fakta perlu ditafsirkan agar memiliki makna. Ambil contoh fosil. Kita bisa membuat daftar pengamatan atau fakta tentang fosil tersebut—seperti beratnya, ukurannya, jenis mineral yang menyusunnya, dan sebagainya. Itu semua adalah data yang dapat diukur dan disepakati oleh siapa pun karena dapat diuji dan diulang. Kita bisa mengukur kerapatannya dengan berbagai metode, dan orang lain dapat mengulangi pengujian tersebut untuk memverifikasi hasilnya.
Tapi bagaimana dengan pertanyaan seperti: “Berapa umur fosil itu?” atau “Bagaimana makhluk itu mati?” Di sinilah perbedaan muncul karena tidak ada seorang pun yang dapat memverifikasi kejadian masa lalu. Kita tidak memiliki mesin waktu. Fosil itu tidak memiliki label yang menyebutkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan kata lain, fosil itu—fakta tersebut—tidak bisa “berbicara” dan memberi tahu kita jawabannya. Kita harus menafsirkan fakta tersebut.
Karena manusialah yang menafsirkan bukti, maka mereka akan membawa bias dalam cara mereka berpikir—terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu. Tidak peduli apa pun yang dikatakan seseorang, setiap orang memiliki bias. Kumpulan bias dasar yang kita miliki disebut sebagai worldview atau pandangan hidup. Kita menggunakan pandangan hidup seperti kacamata. Pandangan yang benar membantu kita melihat dunia secara jelas.
Ketika kita memikirkan tentang ilmu pengetahuan (science), kita perlu membaginya ke dalam dua kategori besar:
Ilmu pengamatan (observational science) – Ini adalah jenis sains yang dapat diuji melalui metode ilmiah. Kita mengamati, menguji, dan mengulang eksperimen untuk memperoleh hasil yang konsisten. Dengan sains jenis ini, kita bisa mengembangkan teknologi, obat-obatan, bahan bakar, dan hal-hal berguna lainnya karena sifat-sifatnya yang dapat diprediksi.
Ilmu sejarah (historical science) – Kadang juga disebut ilmu forensik atau ilmu asal usul. Ilmu ini mencoba memahami masa lalu dengan mengamati bukti-bukti di masa sekarang. Misalnya, jika kita menemukan fosil ikan di suatu lapisan batu, kita bisa mengamati dan mengukurnya. Tapi untuk mengetahui kapan atau bagaimana ikan itu mati, kita perlu menafsirkan bukti berdasarkan asumsi kita sebelumnya tentang sejarah dunia.
Pertanyaannya: ilmu mana yang lebih akurat dan dapat diandalkan—pengamatan atau sejarah? Menentukan usia fosil (ilmu sejarah) memerlukan lebih banyak asumsi dan penafsiran daripada mengukur tulangnya atau menganalisis mineral di sekitarnya (ilmu pengamatan). Kita harus sangat hati-hati dalam menarik kesimpulan dari ilmu sejarah karena pandangan hidup sangat memengaruhinya.
Apa yang Kita Percayai Itu Penting
Kalau saya bilang saya mengenal seorang pria yang pernah berjalan di atas air, apakah kamu akan percaya? Jawabanmu akan menunjukkan bias atau pandangan hidupmu.
Ada orang yang mungkin menjawab bahwa mereka tahu massa tubuh manusia lebih berat daripada air, jadi manusia akan tenggelam jika mencoba berjalan di atas air. Itu adalah pendekatan empiris—mereka butuh bukti eksperimen agar bisa percaya.
Yang lain mungkin mengatakan bahwa itu melanggar hukum alam. Ini adalah pendekatan naturalis atau materialis—mereka menolak kemungkinan terjadinya mukjizat.
Tapi bagaimana dengan Yesus? Bukankah Dia pernah berjalan di atas air? Ya, memang. Apakah saya melihatnya langsung? Tidak. Apakah itu normal? Tidak. Tapi saya percaya karena saya melihat dunia melalui pandangan hidup Kristen atau alkitabiah.
Demikian pula, saya percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta sebagaimana yang dijelaskan dalam Alkitab—bukan melalui Big Bang miliaran tahun lalu. Saya percaya Tuhan menciptakan tumbuhan dan hewan menurut jenisnya dan bahwa mereka tidak berevolusi selama jutaan tahun. Saya memiliki iman bahwa hal-hal ini benar. Tapi itu bukan iman yang buta—itu iman yang didasarkan pada dasar yang kuat.
Setiap orang, bahkan ilmuwan ateis sekalipun, menaruh kepercayaannya pada sesuatu. Mereka mungkin menaruh iman pada akal mereka sendiri, atau pada metode ilmiah, atau pada teori tentang asal-usul semesta. Tapi pada akhirnya, semua itu adalah iman—percaya pada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya diverifikasi.
Saya memilih menaruh iman saya kepada Yesus Kristus, Sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta (Ibrani 1:1–4). Ketika saya belajar sains, saya mencoba memahami bagaimana Tuhan menciptakan segala sesuatu dan bagaimana semua itu bekerja secara teratur.
Tuhan dan Ilmu Pengetahuan
Apa itu sains? Sains melibatkan pengamatan, eksperimen, dan penarikan kesimpulan. Tapi sains hanya mungkin dilakukan jika ada Tuhan!
Kenapa? Karena dalam eksperimen ilmiah, kita mengharapkan alam berperilaku sesuai dengan hukum yang konsisten. Misalnya, ketika kita memanaskan air, kita berharap itu mendidih—bukan membeku. Tapi kenapa dunia ini mengikuti hukum-hukum seperti itu? Jawaban yang rasional adalah: karena ada Pemberi Hukum, yaitu Tuhan.
Hal yang sama berlaku untuk logika. Logika tidak dapat dilihat, disentuh, atau diukur. Tapi kita semua bergantung padanya untuk berpikir. Pandangan hidup materialistis tidak bisa menjelaskan keberadaan logika karena logika bukanlah materi. Tapi jika Tuhan menciptakan kita menurut gambar-Nya, maka masuk akal jika kita memiliki kemampuan untuk berpikir logis.
Jadi jika Tuhan tidak ada, maka tidak akan ada hukum alam yang konsisten, tidak ada logika, dan tidak ada sains. Ilmuwan yang menolak Tuhan sebenarnya meminjam dasar-dasar logika dan hukum alam dari-Nya saat mereka menyelidiki dunia.
Otoritas Alkitab
Bagaimana kita tahu sesuatu itu benar? Apakah kebenaran ditentukan oleh suara terbanyak? Apakah kebenaran bisa berubah? Ini pertanyaan penting ketika kita mencoba memahami dunia di sekitar kita.
Saat membaca buku teks atau mendengar guru menjelaskan, kamu akan sering menemui ide-ide yang bertentangan dengan Alkitab. Jadi kamu harus memilih: percaya pada Firman Tuhan atau pada kata-kata manusia.
Contohnya: beberapa ilmuwan evolusi mengklaim bahwa umat manusia tidak berasal dari satu pasangan (Adam dan Hawa), melainkan dari sekelompok populasi awal. Tapi ini jelas bertentangan dengan catatan Alkitab dan juga dengan ucapan Yesus sendiri (Markus 10:6). Jika kita mulai dari asumsi yang salah, kita akan sampai pada kesimpulan yang salah.
Alkitab memberikan kesaksian langsung dari Tuhan tentang penciptaan dunia. Maka membangun cara berpikir kita berdasarkan Firman Tuhan akan menghasilkan fondasi yang benar.
Dua Jenis Pewahyuan
Tuhan menyatakan diri-Nya kepada manusia dengan dua cara:
Pewahyuan umum – melalui ciptaan-Nya (Mazmur 19, Roma 1). Alam semesta menunjukkan kemuliaan-Nya. Struktur kehidupan yang kompleks menunjukkan keberadaan Sang Perancang.
Pewahyuan khusus – melalui Alkitab. Kita tahu dari Alkitab bahwa dunia ini awalnya sempurna, tetapi jatuh ke dalam dosa karena pelanggaran manusia. Alkitab juga mengungkapkan bahwa Tuhan sedang memulihkan ciptaan-Nya melalui Yesus Kristus.
Tanpa wahyu khusus, kita tidak bisa memahami dunia dengan benar. Sains saja tidak cukup untuk menjelaskan asal-usul, makna hidup, atau keselamatan. Tapi Alkitab memberitahu kita semuanya itu dengan jelas dan dapat dipercaya.