PERSEPULUHAN

PERSEPULUHAN Bah. Ibrani:ma'aseer - Bah. Yunani: dekatee
I. Latar Belakang
1. Memberi 10?ri hasil panen dan jarahan perang kepada para Imam dan Raja, adalah kebiasaan bangsa-bangsa kuno, malah jauh sebelum zaman Musa (Kej.14:18-23; I Sam.8:15,17; I Mak.10:31; 11:35).Maka kalau Abraham memberi perpuluhan dari seluruh jarahan perang kepada Raja-Imam Melkhisedek, ia melakkannya karena itu sudah merupakan tradisi di masa itu.

2. Berbeda dengan Abraham, yang memberi perpuluhan kepada Imam Melkhisedek, Yakub, leluhu rbangsa Israel, telah berjanji (atas prakarsanya sendiri) akan memberikan perpuluhan langung kepada TUHAN dari segala berkat TUHAN yang ia terima (Kej.28:22). Janji itu diucapkannya sesudahTUHAN Allah memberkati dia dan berjanji akan mengaruniakan tanah itu kepada Yakub dan keturunannya. Maka dapat disimpulkan bahwa hal memberi perpuluhan mungkin telah menjadi tradisi keluarga Yakub, sebelum adanya Taurat.

3. Oleh karena itu dapat diduga bahwa TUHAN Allah menetapkan perpuluhan itu dalam Hukum Taurat, karena:

a) Allah menghendaki supaya keturunan Yakub dengan setia melaksanakan janji Leluhur mereka itu, dengan kata lain, TUHAN “menagih” janji Yakub dari bangsa keturunannya,

b) Karena Yakub berjanji memberi perpuluhan kepada TUHAN,maka TUHAN Allah yang menetapkan kepada siapa perpuluhan, yang adalah milik TUHAN itu, harus disa-lurkan.





II. Taurat Musa

Di dalam Pentateuch, ketetapan tentang Perpuluhan terdapat di tiga tempat:

1. Imamat 27 : 30 - 33. Perpuluhan harus diberikan dari:

a) Biji-bijian, yaitu dari hasil panen (gandum dll),

b) Buah-buah pohon, termasuk minyaknya dan anggur (Ul.14:22, 23; II Taw.31:5),

Þ Hasil bumi dapat diuangkan, namun harus ditambah dengan 1/5 (= 20%) dari nilai perpuluhan itu, berarti 12?ri seluruh penghasilan,

c) Ternak (Im 27:32; II Taw.31:5, 6). Ternak dihitung pada saat melalui pintu kandang; setiap yang kesepuluh adalah "kudus bagi TUHAN".

Þ Pemilik tidak boleh memilih apakah hewan itu baik atau buruk serta tidak dapat menukarnya. Jika ia menukar, maka kedua-duanya adalah kudus.

Perpuluhandari ternak tidak dapat diuangkan.

2. Bilangan 18 : 12 - 32. Di sini ditetapkan bahwa perpuluhan harus diberi kepada kaum Lewi (Tetapi perhatikan bahwa menurut Ibr.7:5, yang memungut perpuluhan adalah "dari anak-anak Lewi yang menerima jabatan Imam"), dengan alasan karena:

a) Kaum Lewi tidak mendapat milik pusaka di Tanah Perjanjian sebab "Akulah bagianmu dan milik pusakamu di tengah-tengah orang Israel (ay.20),

b) Perpuluhan itu merupakan imbalan atas pekerjaan kaum Lewi di Kemah Pertemuan/Bait Allah (ay.21).

Þ Menurut Westcott, para imam menerima perpuluhan dari perpuluhan orang Lewi, sehingga secara symbolis mereka menerima seluruh perpuluhan, malah 11% karena sebagai orang Lewi, para imam juga menerima perpuluhan penuh dari bangsa Israel.

Þ Tetapi di zaman Bait Allah Kedua (sesudahpembuangan), para imamlah yang menerima perpuluhan (itu yg dimaksud dalam Ibr.7:5). Di dalam Talmud dikatakan bahwa penyimpangan dari Taurat Musa itu disebabkan oleh dosa orang Lewi yang tidak ingin kembali ke Yerusalem, sehingga harus dipaksa oleh Ezra (Ezr.8:15).

Þ Perpuluhan milik TUHAN itu diberikan kepada kaum Lewi, karena mereka melayani TUHAN di Kemah Pertemuan (Bait Allah) dan tidak mendapat bagian dari warisan yang berupa tanah (ay.21, 24).

Þ Yang disebut "gandum dari tempat pengirikandan hasil dari tempat pemerasan anggur", adalah sama dengan "hasil benih di tanah dan buah-buahpohon" tersebut dalam Im.27:30).

Þ KaumLewi harus memberi perpuluhan dari perpuluhan kepada para Imam (ay. 25-28;Neh.10:38, 39). Dalam hal ini merekaharus memilih "yang terbaik di antaranya" (ay. 29).

3. Ulangan 12 , 5, 6, 7, 10, 11, 18. Di sini ditetapkan bahwa persembahan perpuluhan harus dibawa "ketempat yang dipilih TUHAN dari segala suku sebagai kediaman-Nya", yaitu Yerusalem.

Þ Dalam ayat 7, 12 dan 18 dikatakan bahwa perpuluhan itu harus dimakan "sambil bersukaria di hadapan TUHAN" bersama seisi rumah dan orang Lewi di tempatnya.

Þ Di sini tidak disebut perpuluhan dari ternak, melainkan hanya dari gandum, anggur dan minyak, sedangkan persembahan dari ternak adalah "anak sulungnya" (ay.17 - juga Neh.10:36-38; 13:5,12).

Þ Dalam Ul.14:22-27 ditetapkan bahwa,apabila perjalanan ke Yerusalem terlalu jauh untuk membawa persembahan,maka persembahan itu dapat diuangkan (+20%). Setibanya di Yerusalem, uang itu harus dibelanjakan seluruhnya "sesuka hatimu" (hanya bahan makanan); dan apapun yang dibeli, harus dimakan oleh segenap isi rumah bersama orang Lewi, di hadapan TUHAN "sambil bersukaria".
Þ Ul.14:28, 29 selanjutnya memberi ketetapan tentang "tahun ketiga", yang juga disebut "tahun perpuluhan". Pada tahun ketiga harus dikeluarkan perpuluhan dari seluruh hasil bumi tahun itu untuk dimakan di kota kediaman bersama sama dengan kaum Lewi, orang asing, anak yatim dan para janda yang ada di kota itu.





III. Rangkuman

Kelihatannya ada perbedaan antara Imamat dan Ulangan. Perbedaan itu diatasi oleh tradisi Yahudi, dalam theori dan praktek, dengan menyimpulkan bahwa pada hakekatnya ada tiga jenis perpuluh-an:
a) Perpuluhan Pertama:adalah perpuluhan dari hasil bumi dan ternak, yang seluruhnya menjadi bagian kaum Lewi, yang pada gilirannya memberi perpuluhannya kepada para Imam(Im.27:31, 32; Bil.18:21).

b) Perpuluhan Kedua:adalah perpuluhan dari hasil bumi saja, yang bersama-sama dengan anak sulung ternak, harus dibawa ke Yerusalem untuk dimakan sambil bersukaria di hadapan TUHAN oleh pembawa persembahan dengan seisi rumahnya beserta kaum Lewi (Ul.14:22-27).

Þ Perhatikanlah bahwa ini adalah perpuluhan dari 90% yang tersisa setelah Perpuluhan Pertama diberikan.

c) Perpuluhan Ketiga (juga disebut "Perpuluhan Kaum Miskin"): adalah perpuluhan dari seluruh hasil bumi tahun itu, yang harus dimakan di tempat kediaman oleh kaum Lewi, bersama-sama dengan pemberi persembahan, orang asing, anak yatim dan parajanda di kota itu (Ul.14: 28, 29).

Þ Tentang Perpuluhan Ketiga ini, ada dua pendapa tyang berbeda:

Satu- Bahwa itu adalah Perpuluhan Kedua yang tidak dibawa ke Yerusalem melainkan dikonsumpsikan di tempat kediaman pemberi persembahan beserta kaum Lewi dan orang miskin setempat.

Dua- Bahwa itu adalah Perpuluhan Ketigadi samping Perpuluhan Kedua untuk tahun itu; jadi, perpuluhan dari 81% yang tersisa dari tahun itu.





IV. Perkembangan Pandangan tentang Perpuluhan.

1. Dari penelitian Alkitab di atas, kita lihat bahwa peraturan-peraturan tentang perpuluhan diberikan dalam kontext kebudayaan agraris. Sekarang timbul pertanyaan,bagaimana menerapkannya dalam kebudayaan modern yang industrialis, dengan modus serta hasil produksi dan sumber pendapatan yang jauh lebih komplex:

a) Hasil pertanian dan peternakan telah menjadi produksi komoditi secara besar-besaran (agro-business).

b) Segmen terbesar dari penduduk terdiri dari orang-orang yang menerima upah/honora-rium atas jasa dan hasil dagang, seperti buruh pertanian dan pabrik, pegawai negeri dan swasta, para profesional serta para pedagang dalam berbagai bentuk usaha.
c) Industrialisasi besar-besaran dengan mass-productionnya yang belum dikenal di zaman-zaman Alkitab.
d) Globalisasi di bidang ekonomi dengan perusahaan-perusahaan multi nasionalnya, pemilikan saham oleh publik, pasar modal, dan lain-lain sebagainya, yang semuanya berdampak pada kriteria kepemilikan dan hasil usaha.

Perhatikanlah bahwa Alkitab sama sekali tidak menyebut secara explisit perpuluhan dari upah, hasil dagang ataupun industri. Lagipula, tidak ada lagi "kelas orang Levi dan Imam" dalam tatanan kehidupan masyarakat modern.
Para pendeta masakini sudah termasuk golongan "profesional", seperti dinyatakan dalam KTP; dan di kalangan Protestan mereka bukan imam dalam pengertian Perjanjian Lama; lagipula mereka bukan kaum Levi “yang tidak mendapat bagian tanah" – banyak pendeta memilikitanah....! Sebaliknya semua orang percaya adalah "Imamat yang rajani" (IPet.2:9).

2. Kebudayaan modern telah lahir dan bertumbuh dalama bad-abad sesudah Kristus (menurut Whitehead, justeru karena progresifnya mentalitas Kristiani) dan meningkat dalam kepesatan serta kecepatannya sesudah Reformasi abad XVI, yang a.l. juga mempengaruhi pandangan tentang persembahan. Khususnya mengenai "perpuluhan", kita mencatat perkembangan sbb:

a) Reformasi bermula dan berkembang di Eropa Barat dengan penekanan pada prinsip "tidak di bawah Hukum Taurat, tetapi di bawahanugarah" (Rom.6:14), sehingga berbagai peraturan Taurat, termasuk persembahan perpuluhan, tidak diberlakukan sebagai keharusan dalam gereja-gereja Protestan Eropa, baik yang Lutheran, maupun Calvinis. Alasan-alasannyaa.l. ialah:

Þ Karena manusia dibenarkan hanya oleh iman dan hanya oleh kasih karunia (sola fide, sola gratia), maka segala perbuatan kita, termasuk persembahan, adalah dalam iman dan anugerah pula. Artinya, kesanggupan kita untuk memberi, adalah Anugerah Allah (Yoh.4:12; Rom.12:1).

Þ Allah telah mengasihi kita lebih dahulu (IYoh.4: 19), sehingga kita memperoleh hidup kekal dalam Yesus Kristus; karenanya maka hidup kita adalah suatu hidup dalam kasih pula (I Yoh.4:9-11). Konsekuensinya ialah bahwa segala perbuatan kita, termasuk persembahan dan pemberian, bersumber pada "Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia"(Mat.22:37-40).

Þ Dalam Amsal 21:3 dikatakan: "Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN daripada korban". DanTuhan Yesus sendiri sampai dua kali menegaskan sambil mengutib dari Hosea 6:6,"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan" (Mat.9:13 & 12:7).

Þ Oleh karena Kasih itu "tidak berkesudahan" (I Kor. 13:8), maka segala pelayanan serta pemberian kita tidak berkesudahan (tak terbatas) pula. Dengan demikian jelaslah bahwa persembahan serta pemberian kita kepada TUHAN dan sesama manusia tidak lagi terbatas pada "hasil pertama" (atau"anak sulung") dan "perpuluhan" seperti diatur dalam Taurat Musa itu (Luk.12:33; 19:8; I Kor.9:7, 12; I Tim.6:17-19).

Þ Apabila kita hendak memberi "yang terbaik" kepada ALLAH karena kita mengasihi ALLAH, maka kita tidakmelakukannya karena tuntutan Hukum Taurat, atau "supaya lebih diberkati oleh TUHAN" (seperti umumnya dianut berdasarkan pengertian (yang keliru) tentang Maleakhi 3:10, melainkan karena dorongan hati kita untuk "menyembah Bapa dalam Roh danKebenaran", seperti telah dilakukan secara spontan oleh Habel (Kej.4:4;Yoh.4:23) dan Yakub (Kej.28:22).

Sejarah Gereja dan Sejarah Zending (Missi) menunjukkan bagaimana gereja-gereja Eropa Barat dengan sangat giat telah menyebarkan Kabar Kesukaan ke seluruh penjurudunia, tanpa jemaatnya diharuskan memberi perpuluhan! Melihat perkembangan gereja Eropa serta bobot Zending, termasuk lembaga-lembaga pendidikannya, dapatlah kita simpulkan bahwa jemaat-jemaat Eropa waktu itu telah memberi dengan “berlimpah-limpah”, tanpa perhitungan “perpuluhan”, dalam semangat gereja zaman para Rasul.

b) Tetapi semboyan "Back to the Bible" yang menjiwai semangat Reformasi di AmerikaSerikat, lambat laun mengarah kepada legalisme, malah kadang kala cenderung fundamentalistik. Taurat Musa kembali dibawa ke permukaan sebagai peraturan hidup beriman, yang harus diikuti secara harafiah, seperti merayakan Hari Sabat (Sabtu), larangan makan babi dan membayar perpuluhan (a.l. Adventisme). Tetapi ada pula mazhab-mazhab yang lebih moderat, yang menyebut dirinya "Evangelical" atau "Injili".

Þ Walaupun sedikit banyaknya mengacu pada Taurat, namun kaum moderat lebih mendasarkan perpuluhan pada "peraturanMelkisedek": Sama seperti Abraham memberi perpuluhan kepada Melkisedek, karena Melkisedek telah memberkati Abraham, maka kitapun hendaknya memberi perpuluhan kepada Kristus, yang adalah "Imam Besar menurut peraturan Melkisedek" karena Ia telah memberkati kita dengan mempersembahkan diri-Nya untuk menebus dosa-dosa kita (Ibr.7:1-10, 17).
Þ Tetapi karena di Amerika banyak timbul mazhab-mazhabbaru, yang membutuhkan dana guna perkembangan serta pekerjaannya, maka Maleakhi3:10 dijadikan acuan dengan penekanan pada “janji Tuhan” bahwa Ia akan “membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamusampai berkelimpahan”
Þ Pandangan moderat ini disebarkan oleh para Penginjil dan literatur Amerika ke seluruh dunia, termasuk Indonesia dan mempengaruhi gereja-gereja kita, yang secara historis berasal dari gereja-gereja Protestan Eropa Barat (Belanda dan Jerman), sehingga menimbulkan kontroversi yang cukup tajam serta membingungkan para anggota jemaat.
Þ Walaupun demikian, oleh karena perpuluhan itu sangat menguntungkan perbendaharaan gereja, maka perpuluhan mulai dianjurkan di gereja-gereja kita dalam rangka "Penatalayanan Kristiani" (ChristianStewardship). Tentu saja motivasi "keuntungan" itu patut diwaspadai, terutama bila Maleakhi 3:10 dijadikan dasar!

V. Kesimpulan

Kiranya menjadi jelas bagi kita bahwa kedua pandangan tersebut di atas (Eropa dan Amerika) mengandung kebenaran serta memiliki legalitas Alkitabiah yang tak dapat diragukan. Oleh karena itu, tentang perpuluhan dapatlah kiranya kita membuat kesimpulan sebagai berikut:
1. Dalam memberlakukan perpuluhan, Taurat Musa dapat dijadikan pedoman, tetapi bukan pera­turan, karena kita tidak lagidi bawah Taurat. "Hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh meng­hidupkan"; oleh karena itu, maka adalah Rohkudus yang memimpin kita pada Kebenaran yang terkandung di balik Taurat itu (Yoh.16:13; Rom.7:6 II Kor.3:6;).

Þ Tuhan Yesus berkata bahwa pada "Hukum yang Utama", yakni Hukum Kasih, "bergantung segenap Hukum Taurat dan Kitab para Nabi". Maka segala sesuatu yang dikemukakan oleh Taurat dan Kitab para Nabi merupakan pewujudan dari KASIH itu (Mat.22:37-40).

2. Kita memberi perpuluhan, bukan karena peraturan HukumTaurat, dan bukan juga supaya “lebih diberkati Tuhan”, melainkan dimotivasikan oleh Kasih (I Kor.13:3), sebagai orang yang telah dibenarkan oleh iman, sama seperti Abraham telah lakukan kepada Melkisedek (Kej.14:20).
Þ Oleh karena itu, hal memberi perpuluhan tidak boleh dijadikan "peraturan hidup Kristiani", melainkan merupakanperbuatan iman semata-mata, sebagai spontanitas yang timbul dari Kebenaran yang menguasai hati nurani kita.
3. Karena spontan dan timbul dari pertimbangan hati nurani, maka pada akhirnya pemberian per­sembahan kita, tanpa hitungan dan tanpa batas,sehingga akan melampaui 10%.

Þ Kriteria yang diberikan oleh Tuhan Yesus sendiri tentang "persembahan yang benar" teradapat dalam Mark.12: 41-44 danLuk.21:1-4 tentang seorang janda miskin yang telah "memberi dari kekurangannya, semua yang adapadanya, yaitu seluruh nafkahnya"!
Þ R.G.LeTourneau, adalah pendiri dan pemilik pabrik alat-alat besar "LeTourneau Inc". Bertahun-tahun ia telah memberi perpuluhan dengan setia. Tetapi "naluri bisnisnya" mengatakan bahwa itu "tidak fair" terhadap TUHAN, sedangkan segala kekayaannya berasal dari TUHAN. Waktu ia mengusulkan kepadai sterinya untuk memberi 50?ri keuntungan perusahaan kepada TUHAN dan 50% untuk pribadi mereka. Isterinya men­jawab, bahwa 50% untuk mereka itupun masih terlalu banyak...! Maka karena ucapan isterinya itu, ia mendirikan sebuah Yayasan, khususnya untuk berbagai pekerjaan peng­injilan dan pendidikan, sehingga tidak terhitung banyaknya pusat misi, gereja serta lem­baga penginjilan dan pendidikan yang tersebar di Asia, Afrika dan Amerika Latin yang dibiayai oleh Yayasan LeTourneau itu. Pada waktu umur R.G.LeTourneau mencapai 65 tahun, TUHAN telah memiliki 90?ri perusahaannya melalui Yayasan itu!! Ia mening­gal pada umur 78tahun, masih sebagai orang kaya-raya dengan sisa 10% itu.
4. Banyak orang memakai Mal.3:10 sebagai dasar untuk memberi perpuluhan, karena mengandung "janji" TUHAN. Namun, haruslah kita memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa hal tentang ayat tersebut:
a) FirmanTUHAN itu pada hakekatnya merupakan teguran dan tantangan kepada Is­rael yang telah menyimpang dari Ketetapan Allah serta "menipu TUHAN" dengan ti­dakmembawa perpuluhan dan persembahan khusus (ay.7-9)
b) Dengan firman itu TUHAN mengajak Israel untuk "kembali kepada-Nya" (ay.7)dan mengingatkan mereka akan tanggungjawab mereka atas Rumah TUHAN (ay.10).
c) "Janji" yang diberikan itu sebenarnya mengingatkan bangsa itu kembali, bahwa TUHAN sudah memelihara mereka sejak keluar dari Mesir dan tetap akan memeli­hara mereka, sehingga mengandung makna yang sama dengan ucapan Tuhan Yesus dalam Mat.6:33.
d) Apabila"janji" TUHAN itu menjadi dasar untuk memberi perpuluhan, maka itu akan membahayakan motivasi kita dalam memberi perpuluhan, sedangkan baik perbuatan Abraham dan Yakub, maupun ketetapan Taurat menunjukkan bahwa perpuluhan diberikan sesudah TUHAN melimpahkan berkatNya kepada kita (Kej.14:20, 28:22; Ul.12:7, 10, 11). Walaupun dalam Ul.14:29disebut bahwa akibat Perpuluhan Ketiga itu, "TUHAN akan memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu", haruslah diingat bahwa “Perpuluhan Ketiga” itu juga disebut “Perpuluhan KaumMiskin”, sehingga patutlah disimpulkan bahwa, apabila kita menyalurkan berkat TUHAN kepada orang-orang yang berkekurangan, TUHAN akan lebih melimpahkan berkat-Nya kepada kita. Hal itu dapat kita ibaratkan dengan menara air. Kalau kita membuka keran, air mengalir; apabila air di tangki berkurang, maka secara otomatis pompa hidup dan menambahkan air kedalam tangki. Demikian pula berkat Tuhan bekerja bila kita menyalurkan berkat-Nya kepada orang lain.
5. Oleh karena kita telah menjadi "milikKristus" (I Kor.3: 23), maka segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Kristus pula, sehingga persembahan kita tidak harus terbatas pada perpuluhan; mungkin dapat kita katakan: "paling kurang sepersepuluh...."!

Akhirnya kita tiba pada taraf dimana kita mempersembahkan "seluruh nafkah" kita seperti janda miskin itu dalam Markus 12:41-44). Lebih baik kita berkekesimpulan:
"Itis not how much of my money I give to God, but how much of His money I may keep for my­self".