TRADISI PERAYAAN HARI LUTHER DI NEGERI ALLANG


Dulu, gereja2 yg beraliran Lutheran dan Calvinis setiap tahun merayakan tanggal 31 Oktober sebagai Hari Reformasi Gereja atau lebih dikenal sebagai perayaan Hari Luther Momentum revormasi gereja itu di rayakan di seluruh dunia oleh gereja2 Protestan, termasuk di jemaat Allang. Umumnya perayaan diawali dgn kebaktian jemaat di gereja, lalu setelah itu di ikuti oleh lomba2 kesenian dan kegiatan menjual makanan2 yg biasa disebut Pasar Luther.
Di jemaat Allang, umumnya dari tahun ke tahun diadakan Pasar Luther, dimana pasar ini berlokasi di halaman gereja. Pasar ini hanya menjual berbagai penganan, yaitu kue dari macam2 jenis, tetapi juga hasil2 panen kebun yg berupa makanan, seperti pisang, kelapa, dll.Semua itu bisediakan oleh anggota jemaat yg merasa berkelebihan, dan itu dibawa ke pasar, dan hasil penjualan itu disumbangkan secara langsung kepada perbendaharaan jemaat sebagai income.
Seluruh jenis makanan yg dibawa utk dijual ke pasar Luther, adalah yg di pilih secara kualitas oleh anggota jemaat yg memberikannya. Maksudnya dari hasil kebun yg sempurna, tdk cacat. Begitu juga dgn hasil olahan2 kue itu. Semuanya di pilih secara khusus. Maksud itu terinsipirasi dari persembahan Habel yg memilih yg terbaik dari hasil kebunnya utk di persembahkan kepada Tuhan. Jadi ada rasa ungkapan syukur dan pujian di tengah perayaan Hari Luther ini.
Sebagaiman biasanya dlm kegiatan itu berlaku juga mekanisme pasar, yaitu supply dan demand. Harga bisa melonjak tiba, bila permintaan lebih besar. Dlm kondisi itu pasar menjadi ramai, karena sesekali berlaku juga sistem penjualan lelang, dimana orang yg datang utk membeli, bisa memberikan harga sendiri pd suatu barang diatas harga pokoknya. Misalanya, sebaki cucur di jual dgn harga 25.000, pembeli itu bisa membelinya dgn harga 50.000 atau 100.000.
Uang hasil penjualan itu diserahkan oleh penjual kepada pengurus gereja utk dimasukan sebagai pendapatan pd kas jemaat. Bila di lihat dari segi partisipatif, moment perayaan Hari Luther telah membuka ruang partisipasi anggota jemaat untuk mendukung keuangan jemaat. Dari segi ucapan syukur, jelaslah bahwa jemaat telah memahami secara benar bagaimana mereka memberikan totalitas kehidupan mereka utk dipersembahkan kepada Tuhan melalui pemberian2 makanan yg disebut " Kamananu " utk dijual dalam rangka sebuah perayaan besar dlm tubuh gereja.
Dunia semakin berkembang, seiring dgn perkembangan gereja yg memberi ruang kepada perkembangan bidang teologi. Maka ilmu teologi semakin luas, dan kadangkala menghasilkan banyak turunan teologi, yg kadang menyimpang secara prinsip alkitabiah. Dlm kondisi2 seperti itu, kadangkala perayaan seperti Hari Luther itu semakin ketinggalan, dan pd akhirnya tradisi gereja ini semakin menghilang.
Tetapi dibanyak tempat dan budaya, perayaan2 seperti Hari Luther yg kita rayakan di Allang dahulu itu, yg umumnya adalah perayaan yg diadopsi dari perayaan penyembahan2 dewa dewi, sangat di minati orang. Hal itu mungkin karena perayaan itu dikemas ulang dgn memakai nama moderen seperti The Thanks Giving Day. Orang2 kristen lebih condong berpartisipatif dlm kegiatan2 Thanks Giving Day itu, ketimbang The Lutheran Day. Mengapa ya ?
Dlm the Lutheran Day, jemaat diarahkan pengertian rohaninya bahwa pasar Kamananu yg kita buat di halama gereja dahulu itu, adalah bentuk pengucapan syukur kita kepada Tuhan Sang Pencipta atas kebaikanNya pada kita dgn menganugerahkan kaki tangan yg kuat utk kita bekerja, pikiran yg produktif utk berpikir logis, dan hati yg selalu bersyukur.
Kini, semua telah dilewati dan di tinggalkan zaman. Tetapi janganlah kita melupakan makna dari peringatan Hari Luther di 31 Oktober setiap tahunnya, sebab gereja tanpa Luther, akan menjadi gereja yg kaku dalam Sola Gratia, Sola Fide dan Sola Skriptura.
SELAMAT MEMPERINGATI HARI LUTHER - 31 OKTOBER 2019.

Penulis : Josef Sohilait | Founder Maluta Fanpage Facebook