REFLEKSI YUBILIUM GBI : Apa Yang Telah Kita Perbuat ?

Tanggal 6 oktober 2020 ini menjadi momentum yang penting bagi segenap warga Gereja Bethel Indonesia (GBI), terutama bagi para pejabatnya, sebab bertepatan dengan yubilium atau peringatan hari lahir GBI yang ke 50.
Secara etimologis, kata yubilium (dari bahasa Latin: jubileum), berasal dari perayaan Tahun Yobel dalam tradisi umat Israel di zaman Perjanjian Lama. Tahun Yobel adalah Tahun Sabat yang ke tujuh. Umat Israel memang memiliki “tradisi sabat,” yang meliputi peringatan Hari Sabat dan Tahun Sabat. Keduanya sama-sama memiliki muatan relasional. Ketentuan mengenai Hari Sabat terkait dengan relasi spiritual umat, yaitu tentang bagaimana umat dapat memiliki hubungan yang sehat dengan Tuhan, bertujuan membangun kwalitas rohani umat Tuhan. Sedangkan ketentuan Tahun Sabat berisi muatan relasi sosia, yaitu tentang bagaimana umat Tuhan memperlakukan sesamanya secara adil dan manusiawi, bertujuan untuk menciptakan keseimbangan sosial di antara sesama umat Tuhan.
Sabat (artinya berhenti) itu bernilai sakral, dan wajib diperingati, sebab Allah sendirilah yang telah menetapkan dan melakukannya pada waktu Ia menciptakan alam semesta (Kej.2:1-2). Oleh karena itu sabat disebut sebagai “… hari Sabat TUHAN, Allahmu.” (Kel.20:10). Kewajiban memperingati sabat itu sendiri tak dapat dipisahkan dari kedudukannya sebagai salah satu dari 10 Perintah Allah, tepatnya perintah yang keempat, yang berbunyi: “Ingatlah dan kuduskanlah hai Sabat.” (Kel.20:8).
Kewajiban memperingati hari Sabat itu diuraikan secara lebih tegas di dalam Keluaran 31:12-17. Sebanyak lima kali kata “harus/haruslah” digunakan di dalam perikop itu terkait dengan peringatan sabat. Kemudian ditegaskan pula mengenai sanksi yang berat bagi barangsiapa yang melanggar ketentuan sabat tersebut. Dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini dijelaskan bahwa bahasa yang keras di dalam perikop tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesadaran dan pemahaman kepada umat Tuhan terhadap pentingnya menghormati Sabat TUHAN itu.
Sedangkan kewajiban memperingati Tahun Sabat meliputi ketentuan mengenai bagaimana orang Israel memperlakukan tanah milik mereka yang adalah “Tanah Perjanjian.” Mereka boleh mengolah tanah mereka selama enam tahun penuh untuk kepentingan mereka sendiri. Tetapi pada tahun yang ketujuh, tanah harus diistirahatkan, dan tanaman yang tumbuh sendiri dalam tahun ketujuh itu wajib diperuntukkan bagi kaum miskin dan binatang hutan (Kel.23:10-11; Imm.25:4-5). Pada akhir Tahun Sabat itu haruslah dilakukan ritual penghapusan hutang dan pembebasan budak-budak yang berasal dari kalangan sesam orang Israel (Ul.15:1-18). Ketentuan Tahun Sabat ini bertujuan (menjadi bagian dari semangat) untuk menciptakan keseimbangan sosial di antara umat Tuhan; yaitu supaya “… orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan…” (Kel.16:18). Prinsip ini kemudian diadopsi oleh rasul Paulus di dalam proposal penggalangan bantuan yang ia lakukan di kalangan jemaat-jemaat diaspora untuk membantu jemaat Yerusalem (2Kor.8:13-15).

Pada Tahun Yobel, yang merupakan Tahun Sabat yang ketujuh itu, keseluruhan ritual Tahun Sabat tersebut wajib dilakukan secara lebih massif. Umat Tuhan harus melakukannya dengan perayaan sambal meniup nafiri. Kata “yobel” (Ibr: yovel) itu sendiri artinya domba jantan, mengacu pada nafiri atau terompet yang terbuat dari tanduk domba jantan, yangditiup pada .
Dalam rangka yubilium GBI (kita berharap ini merupakan yubilium yang pertama yang akan diikuti oleh yubilium-yubilium berikutnya sampai hari maranatha, berdasarkan kebenaran proklamasi Tuhan Yesus tentang gereja-Nya di dalam Matius 16:18), sebuah refleksi berupa pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur: “Apa yang telah kita perbuat, baik dalam dimensi spiritual maupun dimenso sosial?”
Menyangkut dimensi spiritual, saya memilih untuk no-comment. Sebab beberapa indikator menunjukkan bahwa GBI cukup baik. Lagi pula hal relasi spiritual itu berada di wilayah yang abstrak dan subyektif. Menilai spiritualitas seseorang akan menjerumuskan kita pada penilaian subyektif yang cenderung menghakimi sesama. Saya hanya ingin sedikit berefleksi menyangkut relasi sosial, dalam hal ini: hubungan antar gereja, antar GBI yang satu dengan GBI yang lain, antara pendeta yang satu dengan pendeta yang lain.
Pada momentum yubilium yang pertama ini, semangat eksklusifisme di GBI terlihat makin menguat; mulai dari eksklusifisme personal sampai kepada eksklusifisme komunal. Indikasinya kasat mata, yakni nampak makin melebarnya jurang pemisah antara gereja besar dengan gereja kecil. Yang nampak adalah persaingan yang semakin sengit antara gereja yang satu dengan yang lain, lupa bahwa gereja ada dalam hakikatnya sebagai tubuh Kristus yang seharusnya saling berkomplementasi (saling melengkapi), bukan saling berkompetisi (1Kor.12). Masih ada pula yang berlaku arogan dengan menabrat Pengakuan Iman dan Tata Gereja GBI. Fenomena ini sangat merepotkan bagi BPH GBI pada waktu-waktu belakangan menjelang yubiliun pertama ini sebab, sebagai eksesnya, GBI menjadi sasaran bulliying di medoa sosial.
Oleh karena sibuk dengan usaha mengaktualisasikan diri di tengah dunia (ladang pelayanan) yang penuh dengan syahwat kompetisi, maka mungkin tak banyak di antara kita yang menyadari bahwa “syndrome Korintus” sudah lama menjadi pandemic di GBI. Hal ini terlihat dari semakin banyak yang berlomba ‘memamerkan’ karunia-karunia rohani yang hebat-hebat, tetapi terlihat kanak-kanak oleh eksklusifisme komunalnya (1Kor.1:4-17; 3:1-9).
Visi GBI adalah “Menjadi Seperti Yesus” sesuai Roma 8:29. Tetapi pertanyaannya kemudian: jika di usia yubilium ini GBI masih berkutat dengan ‘syndrome Korintus,’ dapatkah kita mencapai visi ideal “Menjadi Seperti Yesus” tersebut?
Efesus 4:1-16 mengajarkan bahwa hanya gereja yang hidup di dalam “semangat saling,” yang hidup dalam memelihara kesatuan roh oleh ikatan damai sejahtera, yang seluruh pelayannya melayani secara sinergis dalam semangat saling melengkapilah yang akan bertumbuh dewasa dan mendewasakan menuju keserupaan dengan Kristus. Dalam pengamatan saya, GBI masih belum menampakkan kwalifikasi seperti jemaat Efesus, sehingga visi Menjadi Seperti Yesus masih nampak “jauh api dari panggang.”
Semoga di yubilium yang pertama ini Roh Kudus menolong kita untuk berkontempelasi dan berefleksi untuk GBI yang lebih baik ke depan. Dirgahayu yubilium GBI-ku, GBI kita semua. Tuhan Yesus memberkati.